23 April 2026 – Kurs usd idr kembali menjadi perhatian pasar setelah acuan JISDOR Bank Indonesia pada 22 April 2026 berada di Rp17.179 per dolar AS. Level itu menunjukkan tekanan rupiah masih tinggi di tengah sentimen global yang belum pulih, meski otoritas moneter menegaskan fokus utama tetap pada stabilitas nilai tukar. Data di laman Bank Indonesia juga menempatkan angka tersebut sebagai acuan USD/IDR terbaru yang dipublikasikan bank sentral. Bank Indonesia
Dalam rapat 21-22 April 2026, Bank Indonesia memutuskan menahan BI-Rate di 4,75 persen, disertai suku bunga Deposit Facility 3,75 persen dan Lending Facility 5,50 persen. Dalam pernyataan resminya, bank sentral menilai kebijakan itu diperlukan untuk memperkuat stabilisasi rupiah dari dampak memburuknya perekonomian global akibat perang di Timur Tengah. Bank Indonesia juga menegaskan sasaran inflasi 2026 dan 2027 tetap dijaga pada kisaran 2,5 plus minus 1 persen.
Tekanan terhadap rupiah datang saat dolar AS juga bertahan kuat di pasar global. Perkembangan terbaru di pasar internasional menunjukkan dolar masih berada dekat level tertinggi dalam lebih dari sepekan, di tengah ketegangan Amerika Serikat dan Iran yang ikut mendorong harga minyak. Di saat yang sama, inflasi domestik pada Maret 2026 tercatat 3,48 persen secara tahunan, mendekati batas atas target Bank Indonesia.
Ke depan, Bank Indonesia menyatakan siap memperkuat kebijakan moneter bila diperlukan, termasuk lewat intervensi di pasar NDF, spot, dan DNDF serta penguatan instrumen agar aliran modal asing tetap tertarik ke aset domestik. Bagi pelaku usaha dan rumah tangga, dolar yang masih mahal berpotensi menahan biaya impor, bahan baku, dan harga energi. Karena itu, arah usd idr dalam waktu dekat masih sangat dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik, arus modal asing, dan langkah lanjutan bank sentral.