Jackiecilley.com – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, sedang berupaya mengembangkan Ubi Cilembu sebagai komoditas unggulan melalui inovasi kultur jaringan. Langkah ini diambil untuk memperluas produksi dan meningkatkan daya saing di pasar. “Pengembangan Ubi Cilembu dilakukan secara terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir,” ujar Kepala DKPP Sumedang, Tono Suhartono, dalam keterangan pers di Sumedang, Senin.
Ubi Cilembu dikenal dengan rasa manis menyerupai madu setelah dipanggang, berbeda dari ubi jalar lainnya, sehingga memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar global. Saat ini, pengembangan dilakukan dengan teknologi kultur jaringan agar budidaya tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi tanah asal Cilembu.
Tono menjelaskan bahwa uji coba pengembangan Ubi Cilembu telah dilakukan di beberapa wilayah dengan melibatkan kelompok tani dan aparat kewilayahan. Di area ini, sekitar 5.000 bibit telah ditanam di 26 titik kerja sama. Sentra produksi Ubi Cilembu meliputi empat kecamatan, yaitu Pamulihan, Rancakalong, Tanjungsari, dan Sukasari, dengan total luas lahan mencapai lebih dari 462 hektare. Di Desa Cilembu, yang merupakan wilayah asal, terdapat sekitar 229 hektare lahan budidaya dengan produksi tahunan antara 1.600 hingga 1.900 ton.
Meskipun berpotensi besar, pengembangan Ubi Cilembu menghadapi tantangan, seperti ketergantungan pada kondisi tanah tertentu dan fluktuasi produksi yang dipengaruhi cuaca. Permintaan akan Ubi Cilembu untuk produk olahan dan ekspor mencapai 12 hingga 40 ton per bulan, sehingga kontinuitas produksi menjadi krusial. Pemerintah Kabupaten Sumedang juga berupaya meningkatkan hilirisasi, termasuk pengembangan produk UMKM yang memanfaatkan rasa manis alami Ubi Cilembu. Dengan pengembangan ini, diharapkan Ubi Cilembu dapat memperkuat ketahanan ekonomi para petani dan menjadi komoditas unggulan berkelanjutan.