Jackiecilley.com – Produsen mobil Eropa kini dihadapkan pada tantangan besar dalam industri kendaraan listrik, dengan klaim bahwa benua tersebut tertinggal “setidaknya 20 tahun” dibandingkan dengan China. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Profesor Ferdinand Dudenhöffer, seorang tokoh terkemuka dalam bidang otomotif Jerman, yang juga dikenal sebagai “Paus Otomotif”.
Dalam wawancaranya dengan surat kabar China Global Times, Dudenhöffer, yang menjabat sebagai direktur Pusat Penelitian Otomotif di Bochum, Jerman, mengungkapkan keprihatinan mendalam tentang posisi Eropa dalam pasar kendaraan listrik global. Ketertinggalan ini semakin nyata ketika produsen mobil Tiongkok mencatatkan rekor penjualan di Eropa, dengan total penjualan bulanan melebihi 100.000 unit pada Desember 2025, dan berhasil meraih pangsa pasar sebesar 9,5%.
Dudenhöffer menyoroti bahwa Eropa mengalami defisit dalam teknologi baterai, yang menjadi komponen kunci dalam kendaraan listrik. Ia mencatat, untuk tetap bersaing, produsen mobil Eropa perlu menjalin kemitraan strategis dengan pemasok dari China. Hal ini menunjukkan bahwa kerja sama internasional menjadi aspek vital bagi Eropa untuk mengejar ketertinggalan dan memperkuat posisinya di pasar kendaraan listrik.
Sebagai latar belakang, kombinasi antara inovasi teknologi yang cepat di Tiongkok dan kebijakan pemerintah yang mendukung pertumbuhan industri otomotif listrik telah menjadikan China pemimpin global dalam sektor ini. Sementara itu, Eropa harus menghadapi tantangan dalam beradaptasi dengan perubahan pasar serta mencari cara untuk meningkatkan kualitas dan inovasi dalam produk kendaraan listrik mereka.