Jackiecilley.com – Gelombang protes yang melanda Iran sejak 28 Desember lalu telah berkembang menjadi tragedi kemanusiaan. Menurut laporan saksi mata dan tenaga medis, situasi di jalanan Teheran dan kota-kota lain digambarkan sebagai “neraka,” akibat tindakan keras aparat keamanan yang menggunakan kekerasan untuk meredam demonstrasi yang kian meluas.
Awalnya, protes ini dipicu oleh inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok, namun situasi menjadi mematikan setelah pidato Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Demonstran melaporkan bahwa situasi semakin memburuk, dengan aparat menembakkan peluru dan gas air mata secara sembarangan. Seorang pekerja sosial di Teheran menggambarkan momen menakutkan saat seorang gadis disetrum, sementara seorang dokter di Neyshabur melaporkan hingga 30 orang tewas akibat tembakan, termasuk anak-anak.
Fasilitas medis di Iran tidak mampu mengatasi jumlah korban yang terus bertambah. Mohammad Lesanpezeshki, seorang dokter di Chicago, mencatat lonjakan dramatis pasien di rumah sakit Farabi di Teheran, di mana banyak yang mengalami luka serius di bagian mata. Di Najafabad, orangtua bergegas mengambil jenazah anak-anak mereka untuk segera dimakamkan.
Sejak protes dimulai, Human Rights Activists News Agency (HRANA) memperkirakan sedikitnya 116 orang tewas, termasuk 38 personel keamanan, dan lebih dari 2.600 orang ditangkap. Meskipun pemerintah memutus akses internet, banyak yang tetap turun ke jalan sebagai bentuk perlawanan. Komunitas internasional terus mengamati dengan penuh kekhawatiran, dan para pemimpin dunia menyerukan perhatian terhadap situasi ini.