Jackiecilley.com – Konflik internal di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin memanas, dengan desakan agar Ketua Umum Yahya Cholil Staquf mundur. Pengamat politik Yusak Farchan menilai situasi ini sebagai hasil dari akumulasi pertarungan politik yang telah berlangsung sejak Muktamar 2021. Dalam pernyataannya pada Minggu lalu, ia menjelaskan bahwa konflik yang sekarang terjadi bukan hanya gejolak sesaat, melainkan dampak dari sengketa yang belum sepenuhnya teratasi.
Isu pengelolaan keuangan dan tudingan mengenai zionisme hanya sekadar permukaan dari permasalahan yang lebih kompleks di dalam organisasi. Menurut Yusak, tekanan untuk meminta Gus Yahya mundur menunjukkan adanya dukungan signifikan baik dari internal maupun eksternal PBNU. Rapat Harian Syuriyah PBNU yang mendesak pengunduran dirinya dianggap bukan keputusan yang sepele, melainkan mencerminkan ketidakpuasan yang mendalam.
Selain masalah internal, situasi Gus Yahya diperburuk oleh dugaan penyimpangan dana haji yang melibatkan mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas. Yusak mengingatkan bahwa keterlibatan PBNU dalam kasus ini bisa menimbulkan risiko besar dan merusak reputasi organisasi.
Di tingkat pengurus wilayah, dukungan terhadap Gus Yahya tampak melemah, khususnya di provinsi penting seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah, di mana perpecahan terlihat nyata. Yusak mengingatkan bahwa tanpa adanya reformasi struktural, PBNU berpotensi terjebak dalam konflik yang sama, yang akan menggerus kepercayaan publik. Ia merekomendasikan perlunya penguatan kelembagaan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar organisasi dapat fokus pada tugas-tugasnya dan terhindar dari pengaruh politik luar.