Jackiecilley.com – Ketegangan antara Kuba dan Amerika Serikat meningkat setelah Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, menolak tuntutan Presiden AS, Donald Trump, untuk bernegosiasi. Díaz-Canel menekankan bahwa Kuba merupakan negara berdaulat yang tidak menerima campur tangan dari pihak luar. Dalam pernyataannya lewat media sosial, ia menekankan, “Tidak ada yang bisa mendikte apa yang kami lakukan.”
Tuntutan tersebut datang bersamaan dengan ancaman dari Trump yang menyatakan bahwa Kuba bisa kehilangan dukungan finansial dan pasokan minyak dari Venezuela jika tidak segera berbuat. Díaz-Canel, yang merasa negara mereka telah menjadi sasaran agresi AS selama lebih dari enam dekade, menegaskan Kuba akan terus mempertahankan kedaulatannya. “Kuba tidak mengancam, ia siap membela Tanah Air hingga tetes darah terakhir,” ujarnya menanggapi serangan tersebut.
Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez, mendukung pernyataan presiden dengan menyatakan bahwa negara mereka berhak mengimpor bahan bakar dari mitra mana pun tanpa tekanan dari AS. Rodriguez juga membantah tuduhan Trump bahwa Kuba memberikan “layanan keamanan” kepada rezim Venezuela, dan menyerang kebijakan luar negeri AS yang dianggapnya agresif.
Ketegangan ini menciptakan babak baru dalam konfrontasi antara kedua negara, terutama menyusul penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro, oleh AS. Langkah tersebut menandakan peningkatan tekanan AS terhadap sekutu Venezuela, termasuk Kuba. Meskipun ancaman penghentian pasokan energi bisa memperburuk krisis ekonomi di Kuba, pemerintah Havana tetap menegaskan sikap tidak akan mundur dalam menghadapi tekanan dari Washington.