Jackiecilley.com – Kelompok nelayan perempuan Sipakullong di Torsiaje, Gorontalo, tengah berinovasi dengan mengolah hasil tangkapan gurita menjadi produk sambal dan camilan stik gurita. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomi impor hasil laut yang sebelumnya cenderung dijual dalam keadaan mentah.
Sipakullong, sebuah kelompok yang berarti “saling merangkul” dalam bahasa Bajo, terbentuk melalui dukungan Jaringan Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda) yang mendampingi para nelayan setempat. Menurut pendamping Japesda, Sri Dewi Karim Nagi, produk yang dihasilkan kini meliputi sambal gurita dan stik gurita dengan dua varian rasa, yaitu original dan balado. Dewi mengungkapkan bahwa pengembangan produk ini dilakukan untuk menambah nilai dari hasil tangkapan yang sebelumnya kurang diminati dalam bentuk mentah.
Sejak tahun 2022, kelompok ini mulai menciptakan olahan gurita. Meskipun awalnya mencoba membuat bakso gurita, produk tersebut kurang mendapatkan respon positif dari masyarakat yang lebih mengenal bakso tradisional dari daging dan ikan. Maka, mereka beralih ke sambal dan stik gurita yang saat ini sudah dipasarkan tidak hanya di Gorontalo, tetapi juga diperkenalkan dalam pameran di beberapa daerah seperti Sorong dan Bali.
Tantangan lain yang dihadapi kelompok ini adalah kualitas hasil tangkapan yang sering mengalami kerusakan. Dewi mencatat bahwa gurita yang cacat akan dihargai lebih rendah di pasar lokal. Dengan pengolahan ini, produk-produk tersebut bisa memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Selain gurita, Sipakullong juga berusaha mengembangkan olahan lain seperti ikan garam.
Edukasi berkelanjutan juga diberikan kepada nelayan untuk menjaga keberlangsungan sumber daya, termasuk mendorong mereka tidak menangkap gurita yang masih kecil agar memiliki kesempatan untuk tumbuh. Dengan pendekatan ini, kelompok Sipakullong berkontribusi pada pengembangan ekonomi berbasis sumber daya pesisir sekaligus memperluas peran perempuan nelayan di dalamnya.