Jackiecilley.com – Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, memperingatkan Amerika Serikat agar tidak membiarkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, “membunuh diplomasi” dalam situasi yang semakin tegang menjelang sidang pemidana Netanyahu yang dijadwalkan pada 12 April. Peringatan ini disampaikan Araghchi di tengah gencatan senjata yang baru saja diberlakukan setelah 40 hari pertempuran di kawasan tersebut.
Meskipun gencatan senjata mulai berlaku, Araghchi menekankan bahwa jika AS mengabaikan tindakan Netanyahu yang dianggap merusak diplomasi, hal itu akan berimplikasi pada pilihan yang diambil oleh AS sendiri. “Kami merasa pilihan tersebut bodoh, tetapi kami siap menghadapinya,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan bahwa “waktu hampir habis” dan menggarisbawahi pentingnya Lebanon dan “poros-poros perlawanan” dalam konteks gencatan senjata tersebut. Araghchi juga melakukan serangkaian diskusi melalui telepon dengan menteri luar negeri dari Rusia, Prancis, Spanyol, dan Jerman, menekankan pendekatan Iran yang bertanggung jawab terhadap gencatan senjata.
Lebih lanjut, Araghchi memberi sinyal bahwa Iran akan menyediakan jalur aman melalui Selat Hormuz jika AS memenuhi komitmennya. Menlu Prancis, Jean-Noel Barrot, menyampaikan dukungannya terhadap gencatan senjata, sementara Menlu Spanyol, Jose Manuel Albares, mengutuk serangan yang dianggap ilegal terhadap Iran.
Gencatan senjata selama dua pekan, yang mulai berlaku pada 8 April, berfungsi sebagai langkah awal untuk pembicaraan damai yang dijadwalkan di Islamabad, Pakistan, di mana Iran dipimpin oleh Qalibaf. Namun, Israel menyatakan bahwa gencatan senjata tidak mencakup konflik di Lebanon, dan dalam waktu singkat setelah perjanjian itu, terjadi serangan besar-besaran yang menewaskan lebih dari 300 orang dan melukai ribuan lainnya.