Jackiecilley.com – Analisis terbaru dari Goldman Sachs mengungkap proyeksi harga minyak dunia yang dipengaruhi oleh dua gangguan logistik signifikan. Hantaman serangan milisi Houthi terhadap dua kapal tanker minyak mentah Arab Saudi di Laut Merah dan serangan di terminal ekspor Kazakhstan di Laut Hitam membuat situasi pasokan minyak semakin kritis.
Gangguan ini menyebabkan kapal tanker yang membawa minyak ke China dan India harus berbalik, berpotensi mengganggu pasokan sekitar 5 juta barel per hari dari pelabuhan Yanbu. Dalam laporannya, tim analis Goldman Sachs, yang dipimpin oleh Daan Struyven, mempertahankan proyeksi harga minyak Brent di level USD80 per barel untuk kuartal IV 2026, namun memperingatkan bahwa risiko lonjakan harga kini meningkat.
Analis Goldman Sachs mencatat tekanan pasokan yang dihasilkan dari ketegangan di Selat Bab el-Mandeb dan Terminal Konsorsium Pipa Kaspia, serta dampak dari blokade maritim yang mungkin ditetapkan oleh Houthi. Proyeksi harga tetap stabil di angka yang sama, tetapi, jika ketegangan geopolitik berlanjut tanpa perubahan, skenario terburuk dapat menyebabkan harga minyak melebihi USD145 per barel.
Goldman Sachs memprediksi bahwa meskipun terdapat potensi lonjakan harga, permintaan yang lemah dari China dan negara-negara lain dapat menahan harga minyak agar tidak melonjak drastis. Situasi ini menjadi sorotan penting mengingat dampaknya terhadap pasar global dan ketidakpastian yang dihadapi oleh pelaku industri. Harga minyak diperkirakan akan tetap kuat seiring dengan penurunan stok global, yang mencapai titik terendah tahun ini akibat gangguan produksi di Timur Tengah.