Papan Interaktif Digital Dorong Kemajuan Belajar Siswa

[original_title]

Jackiecilley.com – Pendidikan Indonesia menghadapi tantangan serius dalam meningkatkan kualitas literasi, numerasi, dan sains. Dijiwai nilai PISA yang mencatat Indonesia di peringkat ketiga dari bawah di ASEAN, angka tersebut mencapai 359 untuk kemampuan membaca, 366 untuk matematika, dan 383 untuk sains. Bank Dunia mengingatkan perlunya perubahan radikal untuk mencapai standar OECD dalam pendidikan, dengan prediksi bahwa Indonesia membutuhkan waktu 200 tahun jika tidak ada perbaikan signifikan.

Menanggapi kondisi ini, Presiden Prabowo Subianto meluncurkan kebijakan digitalisasi pendidikan, fokus pada pengadaan unit Papan Interaktif Digital (PID) di sekolah-sekolah. Program ini dijadwalkan menjangkau 288.865 satuan pendidikan pada 2025. Namun, pertanyaan muncul: apakah keberadaan PID akan secara otomatis meningkatkan nilai PISA?

Kompetensi teknologi dalam pendidikan seringkali tidak langsung meningkatkan mutu pendidikan. Sejarawan pendidikan menunjukkan bahwa inovasi seperti papan tulis, radio, dan komputer tidak selalu menghasilkan perubahan substansial, melainkan tergantung pada cara penggunaan oleh pengajar. Pendidikan modern, menurut John Hattie, berfokus pada pemakaian teknologi dalam konteks pedagogi yang tepat.

Di tengah upaya adaptasi curriculum, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, memperkenalkan Pembelajaran Mendalam yang lebih menekankan pengalaman belajar yang bermakna dan kritis. Meskipun menawarkan potensi, tantangan dalam implementasinya muncul di lapangan, terutama terkait keterbatasan sumber daya dan waktu guru.

Dengan kecerdasan buatan (AI), pendidikan dapat bertransformasi, mengubah PID menjadi ruang interaktif bagi proses belajar mengajar. Namun, kualitas pembelajaran tetap tergantung pada bagaimana guru memanfaatkan teknologi tersebut. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan bahwa teknologi seharusnya berfungsi sebagai alat untuk mendukung metode pengajaran yang lebih efektif dan tidak sekadar mengganti metode lama. Transformasi pendidikan Indonesia membutuhkan sinergi antara teknologi, pedagogi, dan peran aktif guru dalam menghadirkan pengalaman belajar yang interaktif.

Baca Juga  Jadwal Salat dan Imsakiyah di Surabaya untuk 15 Ramadan 1447 H

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *