Masa Depan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza Menjadi Pertanyaan

[original_title]

Jackiecilley.com – Masa depan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) di Gaza menjadi sorotan penting, karena banyak faktor yang memengaruhi dukungan politik dan finansial dari negara-negara anggota. Pengalaman selama 75 tahun dalam operasi perdamaian oleh PBB dan 30 tahun oleh NATO menunjukkan bahwa legitimasi, kredibilitas, dan kejelasan misi adalah kunci bagi perwujudan misi tersebut.

Menurut para ahli, termasuk Cedric de Coning dan Erik Skare, ISF sedang menghadapi kendala dalam memenuhi persyaratan minimum untuk beroperasi secara efektif. Pembentukan ISF yang diusulkan dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 pada 17 November 2025 masih terhambat, terutama karena kurangnya kejelasan mengenai tujuan politik dan cara pelaksanaannya. Operasi perdamaian seharusnya bukan hanya mengandalkan kekuatan, melainkan berfungsi sebagai alat untuk pelaksanaan perjanjian politik.

Ada juga tantangan besar terkait pelucutan senjata Hamas. Para ahli mencatat bahwa tindakan melucuti senjata secara paksa oleh ISF mungkin tidak realistis, namun mereka dapat berperan dalam menciptakan lingkungan yang aman untuk memfasilitasi proses tersebut, jika kedua pihak, Israel dan Hamas, sepakat untuk melakukan demiliterisasi secara sukarela.

Meskipun Resolusi PBB menyatakan bahwa ISF harus menggunakan semua tindakan yang diperlukan untuk menjalankan mandatnya, bahasanya tidak secara eksplisit menyebutkan tindakan berdasarkan Bab VII Piagam PBB. Ini mungkin dilakukan untuk mengurangi persepsi bahwa ISF adalah operasi penegakan hukum, tetapi tetap memberi ruang untuk penggunaan kekuatan jika diperlukan untuk menjaga ketertiban di Gaza.

Secara keseluruhan, keberhasilan ISF bergantung pada dukungan politik yang kuat dan komitmen dari semua pihak yang terlibat.

Baca Juga  Indra Sjafri Rincikan Lima Langkah Membangun Sepak Bola Nasional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *