Jackiecilley.com – Dunia kini berhadapan dengan fenomena yang dikenal sebagai China Shock kedua. Gelombang ekspor produk murah dari Tiongkok kembali membanjiri pasar global, kali ini dengan fokus pada sektor teknologi tinggi, yang menimbulkan kekhawatiran akan deindustrialisasi dan ketidakstabilan politik di berbagai negara. Dalam dua dekade terakhir, Tiongkok telah mengalami dua guncangan besar dalam ekspornya, pertama kali terjadi di Amerika Serikat yang berkontribusi pada kehilangan 3 juta pekerjaan pabrik.
Situasi terkini muncul sebagai respons Tiongkok terhadap krisis pasar properti yang terjadi beberapa tahun lalu. Kehilangan kekayaan rumah tangga yang diperkirakan mencapai US$10 triliun telah memaksa pemerintah untuk mengalihkan investasi ke sektor industri, termasuk kendaraan listrik dan baterai. Namun, dengan produksi yang melebihi permintaan domestik, para produsen kini mencari pasar luar negeri. Data menunjukkan ekspor Tiongkok meningkat 18 persen pada semester pertama tahun ini.
Guncangan kedua ini berbeda dari yang pertama, dengan produk-produk teknologi tinggi mendominasi pasar, memberikan dampak signifikan terutama di Eropa. Jerman dan Prancis kini mendesak tindakan bersama untuk melindungi industri mereka dari serbuan barang Tiongkok yang disubsidi. Sementara itu, Jerman berjuang menghadapi krisis di industri otomotif, termasuk rencana Volkswagen untuk menutup beberapa pabrik dan memotong puluhan ribu pekerja.
Ekonomi Tiongkok sendiri menunjukkan tanda-tanda pelambatan, dengan pertumbuhan kuartal kedua yang hanya mencapai 4,3 persen. Dengan terus menurunnya harga rumah, pemerintah dipaksa untuk mengandalkan ekspor sebagai motor pertumbuhannya. Di tengah situasi yang kompleks ini, beberapa negara mulai mengambil langkah-langkah sepihak untuk mempertahankan akses ke pasar Tiongkok.