Jackiecilley.com – Israel berupaya mempersulit perundingan antara AS dan Iran dengan meningkatkan ketegangan, terutama melalui serangan terhadap basis pertahanan Hizbullah di Lebanon. Tindakan ini menunjukkan ketidakpuasan Israel terhadap kesepakatan yang sedang dibahas di antara dua negara tersebut. Menurut Imad Salamey, seorang profesor di Universitas Lebanon-Amerika, Israel secara terbuka menunjukkan kemarahan terhadap perundingan ini. Ia menekankan bahwa Israel merasa senjata Hizbullah dan peranannya di Lebanon belum mendapatkan perhatian yang memadai.
Salamey menilai bahwa Israel berfungsi sebagai pengganggu dalam proses perundingan dan berupaya menyabotase upaya damai yang sedang berjalan. Di sisi lain, dia membandingkan sikap Israel dengan perubahan nada Iran, yang kini mulai menyatakan dukungannya terhadap perdamaian dan stabilitas di kawasan. Hal ini menjadi titik penting, terutama karena selama empat dekade, Iran jarang mengungkapkan niat damai.
Kedua negara, AS dan Iran, kemungkinan akan terlibat dalam pembicaraan lebih lanjut mengenai status Hizbullah dalam konteks kesepakatan ini. Rami Khouri, peneliti dari Universitas Amerika Beirut, menilai bahwa hubungan antara AS dan Israel sedang berada pada momen yang menentukan. Ia menegaskan bahwa pertemuan yang akan diadakan minggu depan bisa menjadi momen krusial untuk menentukan langkah selanjutnya bagi kedua belah pihak.
Dengan latar belakang situasi ini, masa depan perundingan AS-Iran dan stabilitas di Timur Tengah masih menjadi tanda tanya yang memerlukan perhatian lebih lanjut dari para pengamat internasional.