Jackiecilley.com – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk atau GIAA menunjukkan ketahanan bisnis yang cukup baik meski menghadapi tantangan dari kenaikan harga bahan bakar. Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan pada Kamis, perusahaan mencatat pendapatan sebesar 1,80 miliar dolar AS untuk periode Januari hingga Juni 2026, mengalami peningkatan sebesar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 1,55 miliar dolar AS.
Walaupun mengalami kerugian, catatan rugi bersih Garuda Indonesia menyusut sebanyak 23,2 persen menjadi 113 juta dolar AS dari sebelumnya 147,1 juta dolar AS. Kinerja ini terentang di tengah tekanan yang dialami industri penerbangan global akibat lonjakan harga avtur pada semester pertama tahun 2026.
Alvin Lie, Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia, mengidentifikasi periode Agustus hingga November 2026 sebagai masa kritis bagi maskapai penerbangan. Dia menyebutkan bahwa tantangan tersebut muncul bersamaan dengan pelemahan nilai rupiah dan kondisi low season.
Di sisi lain, pengamat penerbangan Gerry Soejatman menyoroti bahwa biaya avtur merupakan lebih dari separuh total biaya operasional maskapai, dan 90 persen biaya penerbangan dalam mata uang asing, yang semakin menekan margin laba. Beban avtur Garuda mengalami lonjakan sebesar 43,6 persen menjadi 677,6 juta dolar AS di semester pertama 2026, dengan peningkatan mencapai 90 persen pada kuartal kedua.
Meskipun mengalami tantangan besar, perusahaan berhasil mengendalikan biaya di luar avtur dan mencatatkan arus kas operasional positif sebesar 253,1 juta dolar AS. Pendapatan dari berbagai lini usaha juga meningkat, termasuk pendapatan penerbangan tidak berjadwal yang tumbuh 32,5 persen, didorong oleh angkutan haji. Garuda mencatatkan kas dan setara kas mencapai 624,3 juta dolar AS pada akhir Juni 2026.