Site icon Jackiecilley.com

Sulhu dan Islah: Merenungkan Makna Perundingan Damai

[original_title]

Jackiecilley.com – Dalam dunia pendidikan Islam, konflik antara pemikiran tradisional dan inovatif seringkali muncul, sebagaimana dialami oleh dosen Universitas Darunnajah (UDN) Jakarta, Muhammad Irfanudin Kurniawan. Dua kolega senior di institusi tersebut terlibat perselisihan terkait kurikulum baru, dengan salah satu ingin mempertahankan tradisi, sementara yang lainnya berjuang untuk pembaruan. Ketegangan ini bahkan menyebabkan suasana kerja yang sebelumnya harmonis menjadi tidak akur, mengingat kedua pihak yang terlibat adalah individu yang cerdas dan berilmu.

Peristiwa ini menyoroti betapa seringnya konflik di lembaga pendidikan Islam terjadi, meskipun jarang dilaporkan dalam rapat resmi. Dari pengalaman tersebut, Kurniawan dan staf junior lainnya merenungkan kembali dua istilah yang selama ini dianggap sepele dalam konteks fikih, yaitu sulhu dan islah. Dikenal hanya dalam konteks teknis jual beli atau sengketa waris, keduanya sejatinya memiliki arti yang lebih mendalam.

Sulhu diartikan sebagai proses perundingan untuk mencari damai, sedangkan islah adalah tujuan akhir dari perbaikan hubungan yang tulus. Menurut ulama klasik, proses ini harus dilakukan dengan kerelaan semua pihak, tanpa adanya paksaan. Dalam Al-Qur’an, Surah Al-Hujurat ayat 9, terdapat penekanan kepada langkah tegas: jika ada pihak yang zalim, mereka harus diluruskan terlebih dahulu sebelum islah terjadi dengan adil.

Kejadian di UDN Jakarta ini membawa pelajaran bahwa pentingnya pemahaman dan penerapan nilai-nilai tersebut dalam menyelesaikan konflik di lingkungan pendidikan, sehingga hubungan antar kolega dapat terjaga dan diperbaiki dengan cara yang lebih konstruktif.

Exit mobile version