Site icon Jackiecilley.com

Polusi Cahaya Perpanjang Musim Alergi di Perkotaan

[original_title]

Jackiecilley.com – Polusi cahaya di perkotaan berpotensi memperpanjang musim alergi, menurut penelitian terkini. Fenomena ini dikenal sebagai Cahaya Buatan di Malam Hari (Artificial Light at Night/ALAN), yang dapat menunda musim serbuk sari, sehingga alergen ini bertahan lebih lama dalam udara.

Studi yang dilakukan oleh Dr. Lin Meng dari Universitas Vanderbilt berfokus pada wilayah Timur Laut Amerika Serikat. Ia menemukan bahwa peningkatan cahaya malam berkorelasi dengan berakhirnya musim serbuk sari yang lebih lambat. Hal ini disebabkan oleh gangguan pada siklus biologis tanaman yang bergantung pada lampu alami.

Tanaman dihadapkan pada cahaya malam yang dianggap sebagai waktu siang, menunda proses penuaan dan memungkinkan pengeluaran polen lebih lama. Hasil analisis data dari tahun 2012 hingga 2023 menunjukkan di wilayah dengan tingkat polusi cahaya tinggi, 27% dari durasi musim serbuk sari terjerat dalam kategori tinggi atau berisiko. Sebaliknya, wilayah yang tetap gelap hanya mencatat 17%.

Masalah ini menimbulkan ancaman kesehatan serius, karena menghirup partikel serbuk sari dapat memicu reaksi alergi, seperti gatal dan pembengkakan, yang berlangsung berjam-jam. Dengan lebih dari 80% populasi global hidup di bawah langit yang terkena polusi cahaya, jutaan orang kini menghadapi risiko gangguan pernapasan yang lebih panjang.

Para ahli menyarankan penataan kota agar mengurangi dampak polusi cahaya. Beberapa rekomendasi meliputi penggunaan tudung lampu untuk mengarahkan cahaya ke bawah, serta penanaman spesies pohon yang menghasilkan polen rendah di area pemukiman. Penelitian ini, yang dipublikasikan dalam jurnal PNAS Nexus, menegaskan pentingnya desain pencahayaan yang bijak untuk kesehatan masyarakat luas.

Exit mobile version