Site icon Jackiecilley.com

Perubahan Iklim Dorong Pengelolaan Bencana yang Baru

[original_title]

Jackiecilley.com – Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia menjadi masalah yang belum sepenuhnya teratasi. Setelah kebakaran padam, tantangan baru muncul, terutama terkait kondisi lahan yang rusak dan risiko lanjutan. Lahan yang terbakar dapat mengurangi kemampuan menahan dan menyerap air, yang dapat berpotensi menyebabkan limpasan permukaan, erosi, dan sedimentasi dalam jumlah besar saat hujan turun.

Ketika musim hujan kembali tiba, peningkatan limpasan ini dapat memicu risiko bencana seperti banjir. Hasil pengamatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan, hingga awal September 2026, lahan terbakar di Sumatera Selatan telah mencapai lebih dari 1.900 hektare, dan di Riau telah lebih dari 15 ribu hektare. Meningkatnya lahan terbakar menandakan adanya kerentanan ekologis yang lebih besar terhadap bencana susulan.

Di tengah perubahan iklim global, yang mencatat 2015-2025 sebagai sebelas tahun terpanas, Indonesia harus menghadapi tantangan yang makin kompleks. Suhu yang terus meningkat membawa dampak terhadap pola curah hujan yang dapat memperburuk risiko kebakaran dan bencana susulan. Terhentinya curah hujan dapat memperbesar kemungkinan terbakarnya lahan, sedangkan hujan ekstrem setelah periode kering seringkali menjadi pemicu terjadinya banjir dan erosi, khususnya di daerah yang vegetasinya telah hilang.

Oleh karena itu, setelah kebakaran, penanganan tidak boleh berhenti sampai api padam. Pemerintah diharapkan segera melakukan penilaian terhadap kondisi lahan guna mengidentifikasi risiko lanjutan yang mungkin timbul. Penanganan yang komprehensif menjadi kunci untuk mengurangi dampak dan risiko bencana di masa mendatang.

Exit mobile version