Site icon Jackiecilley.com

Korsel Berlakukan Sistem Ganjil-Genap untuk Atasi Krisis Bahan Bakar

[original_title]

Jackiecilley.com – Otoritas Korea Selatan mengumumkan pembatasan penggunaan kendaraan pemerintah berdasarkan nomor pelat ganjil-genap, yang akan mulai berlaku pada 8 April. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap krisis bahan bakar yang terjadi akibat konflik di Timur Tengah. Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan menyampaikan bahwa pembatasan ini bertujuan untuk mengurangi konsumsi minyak di tengah situasi yang kian mendesak.

Menurut kebijakan yang dirilis, kendaraan dinas dengan angka terakhir pelat ganjil hanya boleh beroperasi pada tanggal ganjil, sementara kendaraan genap hanya diizinkan beroperasi pada tanggal genap. Pengecualian diberikan bagi kendaraan listrik, hidrogen, serta kendaraan yang digunakan oleh penyandang disabilitas dan perempuan hamil, mencakup sekitar 25 persen dari total kendaraan.

Partisipasi sektor swasta dalam sistem pembatasan ini bersifat sukarela, meski akses ke area parkir yang dikelola pemerintah akan dibatasi. Misalnya, kendaraan dengan pelat nomor berakhir angka 1 atau 6 tidak diperbolehkan memarkir di area publik pada hari Senin. Kementerian memperkirakan bahwa pembatasan ini dapat mengurangi konsumsi minyak hingga 37,5 persen, setara dengan 17.000 hingga 87.000 barel per bulan.

Peningkatan kewaspadaan krisis sumber daya minyak juga diikuti dengan keputusan pemerintah untuk menaikkan tingkat kewaspadaan dari Level 2 menjadi Level 3, efektif mulai 2 April. Sejak serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari, situasi di kawasan tersebut semakin tegang. Akibatnya, jalur pengiriman di Selat Hormuz yang vital mengalami dampak signifikan, memengaruhi pasokan minyak dan gas alam ke pasar global.

Kira-kira 70 persen impor minyak Korea Selatan melalui Selat Hormuz, menjadikannya area yang krusial bagi stabilitas pasokan energi negara tersebut.

Exit mobile version