Inovasi Berkembang Pesat di Teluk Ekas

[original_title]

Jackiecilley.com – Rumput laut menjadi fokus utama di Teluk Ekas, Lombok Timur, di mana pemerintah membangun pusat riset rumput laut bertaraf internasional. Proyek ini diharapkan dapat mengubah peta industri rumput laut dan meningkatkan ekonomi pesisir Nusa Tenggara Barat (NTB). Ketergantungan Indonesia, yang menguasai sekitar 75 persen pasar rumput laut tropis dunia dengan nilai ekonomi mencapai 12 miliar dolar AS, pada ekspor bahan mentah dianggap sebagai tantangan yang perlu diatasi.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, menggarisbawahi perlunya Indonesia bertransformasi dari sekadar produsen menjadi inovator dalam industri ini. Dengan data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi rumput laut NTB pada 2023 mencapai lebih dari 693 ribu ton, tantangan lain pun muncul, seperti keterbatasan bibit unggul yang diakui oleh Dinas Kelautan dan Perikanan NTB.

Meskipun Teluk Ekas diproyeksikan sebagai sentra ekonomi biru, tantangan klasik seperti perubahan iklim dan alih fungsi lahan pesisir mengancam produktivitas rumput laut. Banyak lokasi budidaya terpaksa dipindahkan akibat penurunan kualitas perairan, dan pertumbuhan penyakit tanaman mempengaruhi hasil panen secara signifikan.

Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional tengah mengembangkan bibit tahan panas untuk mengatasi kenaikan suhu yang dapat memicu masalah lebih lanjut. Namun, implementasi di lapangan belum optimal, dan petani memerlukan solusi yang cepat dan efektif.

Dengan tantangan yang ada, penting bagi Indonesia untuk tidak hanya berdiri kuat di sisi hulu, tetapi juga memperkuat posisi hilir agar potensi ekonomi rumput laut dapat terwujud secara berkelanjutan dan membawa manfaat lebih luas bagi masyarakat pesisir.

Baca Juga  Fitur Utama Adobe Photoshop untuk Memudahkan Editing Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *