Site icon Jackiecilley.com

Greenland: Pertarungan Kekuasaan yang Rentan dan Amoral

[original_title]

Jackiecilley.com – Hubungan internasional tidak pernah berjalan mulus, sering kali ditandai dengan pasang surut. Demikian disampaikan Harryanto Aryodiguno, Ph.D, seorang Asisten Profesor Program Studi Hubungan Internasional di President University. Ia menjelaskan bahwa pola tersebut dapat diamati dalam berbagai konteks, mulai dari hubungan pertemanan hingga ikatan keluarga yang seringkali menghadapi konflik namun tetap dapat berbaikan.

Dalam pandangan Aryodiguno, interaksi antarnegara pun mengikuti pola yang serupa. Negara-negara dapat menjalin aliansi yang kuat pada satu waktu, namun pada saat lain bisa berseberangan, tergantung pada situasi dan kepentingan yang ada. Namun, perbedaan signifikan antara hubungan yang stabil dan yang rapuh terletak pada dasar nilai dan karakter yang menjadi landasan. Ia berpendapat bahwa hubungan tanpa nilai dapat dengan mudah berubah menjadi transaksi, sementara kedekatan yang tidak berdasar karakter bisa berujung pada ketergantungan yang lemah.

Filsafat Tiongkok, khususnya tradisi Konfusianisme, memberikan pandangan yang mendalam mengenai hubungan ini. Dalam kerangka Konfusianisme, hubungan dianggap sebagai tanggung jawab moral, di mana loyalitas dan pengabdian tidak hanya sekadar emosi, tetapi merupakan komitmen etis untuk menjaga kehormatan bersama. Dalam konteks hubungan antarnegara, prinsip ini menekankan pentingnya menghormati kedaulatan, menjaga konsistensi sikap, dan menyadari bahwa stabilitas jangka panjang lebih berharga dibandingkan keuntungan jangka pendek.

Dengan demikian, pemahaman tentang fondasi nilai dan karakter dalam hubungan internasional dianggap krusial untuk menciptakan keselarasan dan stabilitas, yang pada gilirannya berdampak positif bagi hubungan antarnegara di masa depan.

Exit mobile version