Site icon Jackiecilley.com

Cendekiawan NU: Moderasi Beragama Tidak Sama dengan Moderasi Agama

[original_title]

Jackiecilley.com – Moderasi beragama menjadi topik sentral dalam diskusi yang diadakan oleh Dr Ngatawi Al Zastrouw, seorang cendekiawan dan seniman Nahdlatul Ulama, di Jakarta pada Rabu. Dalam acara bertajuk “Dari Santri Mahasiswa Untuk Bangsa: Rekonsiliasi Kebangsaan dan Merawat Kebinekaan,” ia menekankan bahwa penting untuk memahami moderasi beragama sebagai cara untuk menginterpretasikan dan mempraktikkan agama, bukan moderasi terhadap agama itu sendiri.

Dr Ngatawi menjelaskan bahwa moderasi beragama berkaitan erat dengan cara individu menerapkan ajaran agama dalam interaksi sehari-hari, terutama dengan masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda. Ia menegaskan bahwa moderasi dan toleransi tidak berfungsi untuk mengubah keyakinan seseorang, melainkan sebagai landasan untuk menciptakan kehidupan bersama yang harmonis.

Sebagai Direktur Kebudayaan di Universitas Indonesia, Dr Ngatawi mengaitkan moderasi beragama dengan pengalaman sejarah panjang masyarakat Nusantara yang beragam. Ia berpendapat bahwa interaksi sosial yang berkelanjutan telah membentuk karakter budaya yang fleksibel, sehingga kebhinekaan Indonesia harus dilihat sebagai bagian integral dari pengalaman sosial dan budaya bangsa.

Dalam diskusi tersebut, KH Yusron Shidqi, Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam, menambahkan bahwa moderasi harus mencerminkan prinsip-prinsip seperti tawasuth (menemukan titik tengah), tawazun (seimbang), tasamuh (toleransi), dan i’tidal (keadilan). Ia menekankan bahwa toleransi harus diwujudkan secara aktif dan proaktif melalui kerja sama, bukan sekadar membiarkan perbedaan.

Keseluruhan pandangan ini menunjukkan bahwa moderasi beragama berfungsi sebagai pengikat dalam keberagaman masyarakat Indonesia, mengarah pada kehidupan yang lebih harmonis dan saling menghargai.

Exit mobile version