Jackiecilley.com – Rektor Institut Teknologi PLN (ITPLN) Prof Iwa Garniwa mengusulkan pemerintah mempercepat pembangunan jaringan gas kota dan transisi ke kompor induksi sebagai solusi terhadap kenaikan harga LPG nonsubsidi 12 kilogram. Dalam pernyataan yang disampaikan di Jakarta, Iwa menilai penggunaan energi listrik untuk memasak jauh lebih menguntungkan dan aman untuk ketahanan energi nasional, serta bisa mengurangi ketergantungan pada barang impor.
Ia mengungkapkan bahwa saat ini terdapat disparitas harga yang signifikan antara LPG 12 kg dan LPG 3 kg, yang selisihnya hampir mencapai tiga kali lipat. Hal ini mendorong konsumen beralih dari LPG nonsubsidi ke LPG bersubsidi, yang berpotensi membahayakan subsidi APBN yang ditujukan untuk kelompok tertentu. Iwa memandang bahwa langkah untuk memperketat distribusi LPG bersubsidi dengan pendataan berbasis nomor kependudukan sangat diperlukan untuk mencegah kebocoran subsidi.
Selain itu, untuk pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Iwa menyarankan agar pemerintah memberikan akses kredit mikro atau menyediakan ukuran LPG nonsubsidi yang lebih kecil agar lebih terjangkau. Mengenai dampak penyesuaian harga, ia menilai bahwa kenaikan harga LPG 12 kg yang terkait dengan mekanisme pasar global tidak akan berdampak signifikan pada perekonomian makro, dengan kontribusinya terhadap inflasi diperkirakan sangat kecil.
Meskipun demikian, Iwa mengingatkan adanya potensi efek jangka kedua di sektor UMKM kuliner, di mana kenaikan biaya dapat berimbas pada harga makanan. Ia mencatat bahwa efek ini biasanya terasa bertahap dalam waktu satu hingga dua bulan setelah kenaikan harga terjadi.
![[original_title]](https://jackiecilley.com/wp-content/uploads/2026/04/1000377058.jpg)