Jackiecilley.com – Krisis melanda bandara-bandara utama di Amerika Serikat setelah ribuan petugas keamanan dari Transportation Security Administration (TSA) melakukan aksi mogok kerja. Tindakan ini diambil sebagai respons terhadap penutupan pemerintah yang telah berlangsung sejak 14 Februari, mengakibatkan petugas TSA tidak menerima gaji selama beberapa minggu. Akibatnya, antrean panjang dan waktu tunggu yang mencapai berjam-jam mulai terlihat di berbagai terminal. Pada Minggu lalu, lebih dari 3.400 agen TSA dilaporkan absen dari tugas mereka.
Sebagai solusi darurat, pemerintah mengerahkan agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) untuk mengantisipasi kekurangan personel di 14 bandara utama, termasuk di New York, Atlanta, dan Houston. Tom Homan, pejabat Gedung Putih, mengonfirmasi bahwa ratusan agen ICE kini bertugas untuk membantu menjaga keamanan di bandara, meskipun mereka tidak diperkenankan mengenakan masker sesuai instruksi Presiden Donald Trump.
Data menunjukkan keparahan situasi, dengan tingkat absensi yang tinggi, seperti 42,3% di Bandara Internasional Louis Armstrong New Orleans dan 41,5% di Atlanta. Penumpang pun diimbau untuk tiba lebih awal, sekitar tiga hingga empat jam sebelum penerbangan. Adam Stahl, Plt Deputi Administrator TSA, menjelaskan bahwa peran agen ICE difokuskan pada pengendalian massa dan bukan pada pemeriksaan penumpang langsung.
Langkah ini telah menuai kritik, terutama terkait kekhawatiran akan potensi profil rasial yang mungkin terjadi, seperti yang diungkapkan oleh Derrick Johnson dari NAACP. Krisis ini mencerminkan ketegangan politik di Kongres, di mana Demokrat dan Republik terjebak dalam kebuntuan mengenai pendanaan agensi imigrasi. Jika kesepakatan tidak tercapai, petugas TSA yang tersisa berisiko kehilangan gaji sekali lagi pada akhir pekan ini.
![[original_title]](https://jackiecilley.com/wp-content/uploads/2026/03/1774306805_f3b20d5881809e7fc757.jpg)