Jackiecilley.com – Perpustakaan Jakarta di kompleks Taman Ismail Marzuki, Cikini, kembali menawarkan nuansa yang jarang ditemui dalam ruang publik, terutama untuk anak-anak. Di dalamnya, terdapat banyak buku yang tertata rapi, menciptakan suasana seperti di toko buku. Sudut membaca yang tersedia dilengkapi dengan berbagai pilihan tempat duduk, dari sofa hingga lesehan, menjadikan pengalaman membaca lebih nyaman.
Seorang ibu terlihat membacakan cerita kepada anaknya yang masih di taman kanak-kanak, menarik perhatian anak-anak lain yang juga asyik dengan buku masing-masing. Namun, di luar gedung perpustakaan, anak-anak sering kali lebih memilih berinteraksi dengan gawai mereka, yang menunjukkan perubahan pola perilaku dari membaca ke menonton atau bermain game.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik, sekitar 42,25 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler pada tahun 2025. Hal ini mencerminkan tantangan yang dihadapi dalam mengalihkan perhatian anak-anak dari gadget ke kegiatan membaca. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mencatat kehilangan banyak penulis cerita anak di Indonesia saat anak-anak seharusnya dibimbing menjauhi pengaruh negatif teknologi.
Rano mengingat pengalaman masa kecilnya saat menemukan buku “Si Doel Anak Betawi,” yang membawanya menuju karier di dunia hiburan dan politik. Kenangannya menunjukkan betapa pentingnya buku bagi perkembangan anak. Sayangnya, saat ini, akses terhadap buku cerita anak menjadi semakin sulit didapat.
Di era digital, sebuah buku baru seperti “Na Willa” karya Reda Gaudiamo menunjukkan potensi untuk kembali memikat perhatian anak-anak, terutama setelah diadaptasi menjadi film. Hal ini membuktikan bahwa meskipun tantangan besar bagi mereka yang ingin memperkenalkan buku kepada generasi muda, usaha untuk menarik minat membaca masih sangat diperlukan.