Jackiecilley.com – Pasar aset kripto di Indonesia memasuki fase kematangan, dengan fokus pada penguatan utilitas digital dan peningkatan partisipasi investor institusional. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menyatakan bahwa adopsi kripto di Indonesia telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, meski perhatian pelaku industri global terhadap pasar ini masih relatif minim.
Dalam pengumuman resmi di Jakarta, Calvin menjelaskan bahwa kripto bukan lagi sekadar eksperimen, dan bahwa adopsi aset digital di Indonesia sudah mendapatkan pijakan yang kuat. Menurutnya, tantangan selanjutnya adalah memperdalam dan memperluas ekosistem kripto, dengan mendorong pemanfaatan aset digital melalui integrasi dengan sektor keuangan.
Selain itu, Calvin juga mencatat bahwa peluang kini terfokus pada peralihan dari adopsi ritel menuju utilitas keuangan yang lebih terstruktur, dengan tujuan meningkatkan tokenisasi dan keterlibatan investor institusional.
Optimisme terhadap pasar kripto Indonesia tercermin dalam laporan Chainalysis Global Crypto Adoption Index 2025, di mana Indonesia menempati peringkat ketujuh dari 151 negara dalam hal adopsi kripto berbasis masyarakat. Hal ini menempatkan Indonesia di atas sejumlah negara lain yang dikenal sebagai pusat industri kripto di Asia.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa pada Juli 2026, jumlah konsumen perdagangan aset digital di Indonesia mencapai 22,93 juta, dengan nilai transaksi kripto sebesar Rp20,52 triliun. Calvin menekankan bahwa karakter pasar Indonesia unik dan tidak dapat disamakan dengan negara-negara Asia lain karena perbedaan regulasi, perilaku konsumsi, dan ekspektasi masyarakat.