Dari Teknis Menyandang Jabatan di Meja Direksi

[original_title]

Jackiecilley.com – Keamanan siber menjadi topik krusial bagi perusahaan di era digital saat ini, terutama karena pergeseran paradigma dalam tata kelola keamanan siber yang semakin fundamental. Menurut Dr. Arif Rahman Hakim, seorang pengamat di bidang keamanan dan ketahanan siber, anggaran yang selama ini dianggap sebagai beban biaya teknologi informasi kini harus dilihat sebagai investasi bisnis yang vital untuk kelangsungan hidup perusahaan.

Ancaman modern, seperti ransomware-as-a-service dan serangan rantai pasok, menunjukkan bahwa keamanan siber tidak bisa lagi dipandang sebagai urusan teknis semata. Sebaliknya, sektor industri dihadapkan pada tantangan dalam menjembatani kesenjangan komunikasi antara tim teknis dan jajaran direksi. Tim teknis cenderung menggunakan istilah kompleks seperti vulnerability score dan patching management, sementara direksi berpikir dalam konteks bisnis, termasuk return on investment dan perlindungan reputasi.

Sering kali, keputusan investasi keamanan siber tertunda hingga terjadinya insiden, yang dapat berakibat fatal. Misalnya, pemangkasan anggaran pemeliharaan demi efisiensi jangka pendek dapat mengakibatkan sistem yang rentan terhadap serangan siber, menyebabkan kerugian finansial yang besar dan mengganggu operasional perusahaan.

Untuk meningkatkan kesadaran perlunya investasi dalam keamanan siber, Dr. Arif merekomendasikan tiga pendekatan: pertama, mengkuantifikasi risiko siber ke dalam nilai finansial yang jelas. Kedua, memposisikan keamanan siber sebagai enabler bisnis. Terakhir, membangun budaya kesadaran di tingkat eksekutif agar semua pihak memahami pentingnya keamanan siber dalam konteks keberlanjutan bisnis. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan perusahaan dapat lebih siap menghadapi ancaman di dunia maya.

Baca Juga  Momentum Mario Aji Terhenti di Q2 Moto2 Inggris

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *